Jumat, 25 November 2011

Kodok Hijau (Rana pipiens)


Kodok Hijau
(Rana pipiens)
Kodok Hijau (Rana pipiens)

A.    Klasifikasi Kodok Hijau (Rana pipiens)
Kingdom         :           Animalia         
Phylum            :           Chordata
Class                :           Amphibia
Ordo                :           Anura
Family             :           Ranidae
Genus              :           Rana
Species            :           Rana pipiens
B.     Karakteristik Eksternal
Tubuh terbagi menjadi kepala dan badan (tidak ada leher). Terdapat dua pasang apendiks lokomotor (yang belakang sangat panjang). Kulit lunak dan tidak bersisik. Lubang hidung antori-dorsal,  mata  dorsal, besar, membran timpaniv, dorsal berada di belakang dekat mata. Mulut sangat lebar. Tiap tangan mempunyai 4 jari, jari kelima rudimenter. Tiap kaki mempunyai 5 buah jari dengan selaput antar jari – jari.
C.    Morfologi dan Fisiologi Sistem Organ
1.      Sistem Skeleton
Tengkorak terdiri dari kranium kecil, tulang muka yang lebar dan  pipih. Tulang orbital besar, dan rahang sangat lebar. Kolumna vertebralis terdiri dari 10 elemen, yang pertama disebut tulang atlas, yang ke-9 tulang sakral, dan ke-10 tulang urostil (yang sangat memanjang). Semua vertebrae, kecuali pertama, kesembilan, dan kesepuluh mempunyai prosessus transversal yang panjang disebut rusuk. Ada sternum (tulang dada) dan dihubungkan dengan sabuk pektoral (sabuk dada). Yang terakhir itu terdiri dari klavikula, korakoid, skapula, dan supraskapula (kartilago). Sabuk pelvik terdiri dari illium, iskium, dan falang. Skeleton kaki depan terdiri dari humerus, radio-ulna, karpal, falang. Skeleton kaki belakang terdiri dari femur,tibio-fibula, tarsal, dan falang.

2.      Sistem Otot
Secara majemuk, sistem otot katak berbeda dari susunan miotom primitif, terutama dalam apendiks. Otot-otot segmental mencolok pada tubuh. Segmen kaki teratas berotot besar.



3.      Sistem Pencernaan
Mulut dengan banyak gerigi kecil disepanjang rahang atas, dan gigi vomerin pada langit-langit mulut. Lidah berotot dan bifurkat (cabang dua) pada ujungnya, dan bertaut pada bagian anterior mulut. Saluran pencernaan mulai dari esofagus (berdinding lurus dan besar) langsung bersatu dengan lambung. Lambung memanjang dan berkelok ke samping kiri, dan berotot. Usus terdiri dari intestinum (kecil, panjang, berkelok – kelok), rektum yang langsung bersatu dengan kloaka. Baik hati maupun pankreas mempunyai saluran-saluran menuju ke duodenum. Ada kandung empedu. Baik lambung maupun intestinum pada potongan melintang terdiri dari 4 lapisan, yaitu :
·         Peritonium
·         Lapisan otot
·         Submukosa
·         Mukosa

4.      Sistem Respirasi
Pada berudu terdapat insang eksternal dan (kemudian) insang internal. Katak dewasa bernapas dengan paru-paru, yaitu berupa kantung-kantung yang pada dindingnya terdapat banyak ruang. Paru -paru berhubungan dengan udara luar melalui 2 bronki, laring, (kotak suara) yang mengandung tali-tali vokal, lalu faring dan lorong- lorong nasal. Lubang dari faring ke laring berupa celah longitudinal yang di sebut glottis. Lubang-lubang dalam dari lorong-lorong nasal itu di sebut nares internal (hidung dalam). Pertukarang gas terjadi melalui kulit.

5.      Sistem Sirkulasi
Jantung mempunyai 2 aurikel dan satu ventrikel. Darah dari sinus venosus masuk ke dalam aurikel kanan. Darah meninggalkan ventrikel melalui trunkus anteriosus yang bercabang dua di sebelah anterior jantung, lalu terbagi pada setiap sisi tubuh menjadi tiga pokok, yaitu ; arteri karotis, arteri sistemik, dan arteri pulmo-kutaneus (berurutan dari anterior ke pasterior). Tiapa arteri karotis interna dan karotis eksterna yang menuju ke dalam kepala. Arteri pulmo-kutaneus membuat cabang-cabang ke paru-paru dan kulit. Arteri sistemik (2 buah) bersatu menjadi aorta dorsal. Aorta dorsal itu bercabang-cabang menjadi seliako-mesenterik (lambung, hati, intestinum), segmental (otot-otot), renal (mesonefros), genital (gonad), dan iliakal (kaki-kaki).
Darah dari paru-paru kembali ke aurikel kiri melalui vena pulmonary. Semua darah memasuki aurikel kanan, terus melalui sinus venosus (berupa kantong besar di sebelah sisi dorsal). Sinus venosus menerima dua vena cava anterior yang membawa darah dari bagian anterior tubuh, dan 1 vena cava posterior yang membawa darah dari mestanofers dan mengalirkannya langsung ke hati (tidak dalam kapiler-kapiler) dan terus ke jantung. Darah masuk ke dalam jaringan hati baik dari arteri hepatic (cabang seliako-mesenterik) atau pun dari vena porta hepatic yang membawa darah dari lambung dan usus. Sistem porta renal ada juga. Sistem itu menghubungkan system porta hati melalui jalan vena pelvic dan vena abdominal ventral.

6.      Sistem Ekskresi
Ginjal tipe mesonefroid dan saluran-saluran kemih yang disebut saluran-saluran Wolff (saluran-saluran mesonefros). Saluran-saluran itu langsung membawa secret ke kloaka, walaupun ada juga kandung kemih disebelah sisi ventral kloaka itu.

7.      Sistem Saraf
Otak terbagi atas 5 bagian dan sarebellum merupakan bagian yang terkecil. Ada 10 saraf kranial. Tiga saraf pertama membentuk pleksus brekeal (serabut-serabut saraf yang silang-menyilang). Saraf ke-7, ke-8, ke-9 membentuk pleksus inskiadikus. Sesuai dengan adanya pelebaran korda saraf, maka disini terdapat saraf brakial dan saraf lumba.

8.      Sistem Sensori
Mata, dengan kelopak mata atas dan kelopak mata bawah, dan ada lagi kelopak mata ketiga yang transparan, yang di sebut membrane niktitans. Bola mata kurang lebih sferis (bulat). Permukaan luarnya tertutup dengan konjuntiva tipis transparan (yang bergerak berbalik di bawah kelopak mata). Di bawah konjuntiva terdapat kornea yang tebal tetapi juga transparan. Kornea itu terus berkesinambungan dengan sclera yaitu penutup luar bola yang tidak tembus cahaya. Di bawa sklera terdapat koroid yang bagian depannya bersatu dengan laci berbentuk kue donat, tetapi tidak berkontak dengan kornea, dan yang di sebut dengan iris. Lubang dalam iris itu adalah pupil. Lensa kritalin terletak tepat di bagian belakang iris, mentup pupil. Sebelah kanan bola mata terdapat jaringan saraf yang di sebut retina, terus melanjut sebagai saraf optikus. Ruang dalam lensa dan iris mengandung humor aqueus (cairan seperti air). Ruang di belakang lensa dan iris di isi dengan houmor vitreus (cairan seperti kaca). Mata di gerakkan oleh 6 otot, yaitu otot-otot seprior, inferiol, rektus internal, rektus eksternal, oblikus inferior, dan oblikus superior. Saraf kranial III, IV, dan VI menginervasi otot-otot mata itu.
Telinga, dengan organ-organ pendengar dan keseimbangan yang berupa 3 saluran semi sirkular, yaitu vertical anterior, vertical posterior, dan horizontal. Membran timpani (dalam telinga  tengah, tapi tidak ada telinga luar), membawa impuls-impuls ke kolumella, yaitu tulang tipis dan telinga tengah yang memancarkan impuls-impuls melalui stapes ke koklea, yaitu organ pendengaran. Telinga tengah berhubungan dengan faring melalui tabung tabung Eustachii.

9.      Kelenjar Endokrin
Kelenjar pituitari (hipofisis) terletak di bawah otak, mempunyai 3 lobus masing-masing menghasilkan hormon. Lobus anterior membuat hormon peransang pertumbuhan dan peransang metamorphosis, dan juga hormon peransang gonad. Lobus intermedus membuat hormon untuk mengendalikan perluasan (ekspansi) sel-sel pigmen, dan berakibat menjadi lebih gelapnnya warnah kulit. Lobus posterior membuat hormon yang berhubungan dengan keseimbangan air dan kontraksi otot-otot polos.
Kelenjar tiroid, terdiri atas dua buah lobus, masing-masing didekat dasar arteri karotis interna. Sekretnya (hormon) mungkin meransang aktivitas metabolik  pada umumnya. Secara deftinitif, hormon itu meransang metamorphosis dari berudu menjadi katak dewasa.
Kelejar Ardenal mengandung dua tipe jaringan khas seperti pada manusia, yaitu jaringan korteks dan medulla. Pada katak, kelenjar ardenalnya terletak disepanjang permukaan ginjal. Medulla menghasilkan epinefrin yang menyebabkan kontraksi otot polos pada beberapa arteri sedang arteriol-arteriol dalam otot bergaris relaksasi dan jantung teransang. Pada manusia, karena proses tersebut, terjadilah kenaikan tekanan darah. Epinefrin juga menyebabkan relaksasi otot- otot bronkiol dan paru-paru (untuk mengurangi serangan asma). Epinefrin juga mempercepat formasi glikogen menjadi glukosa. Dalam darah manusia biasanya terdapat 1-2 ppm, tetapi karena tekanan emosional seperti takut atau marah, jumlah itu dapat naik. Akibatnya darah dari jeroan banyak yang di pindahkan ke otot dan otak dan individu yang bersangkutan siap untuk melawan atau terbang. Namun semua efek hormon yang tersebut pada katak tidak di ketahui, tetapi kelenjar itu penting untuk hidupnya katak.
Gonad juga membuat hormon yang berhubungan dengan karakteristik seksual sekunder, yaitu ibu jari yang membengkak pada katak jantan salam musim perkawinan itu di sebabkan oleh sekret (hormon) yang dibuat oleh testes.

D.    Reproduksi Dan Perkembangan
Fertilisasi eksternel, tetapi terjadi kayak jantan menjepit katak betina ketika perkawinan (yaitu ketika telur di lepaskan segera sperma di semprotkan). Katak betina mempunyai 2 ovarium, yang terletak disebelah ventral mesonefros. Telur dewasa keluar lalu masuk ke dalam selom, lalu tertarik ke dalam ovinduk. Disekitar sejumlah telur itu, terbentuk selubung gelatinosa dan pembentukan selubung itu terjadi ketika telur masih dalam ovinduk. Katak jantan mempunyai 2 testes yang berhubungan dengan ginjal melalui  beberapa vasa efrensia. Spermatozoa mencapai kloaka melalui saluran Wolff.
Perkembangan selanjutnya terjadi dalam air. Pembelahan total inekual. Gastrulasi berakhir terutama setelah terbentuknya 2 lapisan mesoderm. Dalam perkembangan selanjutnya terbentuk stadium larva akuatis, bernapas dengan insang dan di sebut berudu, dan dengan metamorphosis terjadi katak dewasa.

E.     Struktur Anatomi Ordo Anura

F.     Habitat dan Penyebaran
Katak hijau memiliki berbagai habitat. Mereka ditemukan di kolam permanen, rawa, rawa dan sungai yang bergerak lambat di sepanjang hutan, daerah terbuka dan perkotaan. Mereka biasanya menghuni badan air dengan vegetasi air berlimpah. Mereka juga disesuaikan dengan dingin dan dapat ditemukan di atas 3.000 m (9.800 kaki) dpl. Katak hijau berkembang biak dimusim semi (Maret-Juni). Sampai dengan 6500 telur yang diletakkan dalam air, dan berudu pengembangan yang lengkap dalam kolam penangkaran. Berudu adalah cokelat muda dengan bintik-bintik hitam, dan pengembangan membutuhkan 70-110 hari, tergantung pada kondisi. Katak adalah 2-3 cm Metamorph (0,79-1,2 dalam) dan menyerupai orang dewasa.           
Spesies ini umum ditemukan dibagian barat Kanada sampai penurunan mulai terjadi selama tahun 1970-an. Penurunan populasi diduga disebabkan oleh drift polusi dari Amerika Serikat jatuh dalam bentuk hujan asam. Banyak populasi kodok hijau belum pulih dari penurunan ini.  

G.    Ekologi dan Perilaku
Katak hijau terdapat di sungai, kolam atau lokasi air lainnya di musim dingin. Menyebar ke dataran tinggi lembab atau air yang permanen selama kering di musim panas. Membutuhkan penutup tanah yang cukup tinggi untuk penyembunyian. Ketika diganggu, katak melompat cepat dan tak menentu. Informasi anekdotal ada untuk penurunan mereka di Idaho.    

Katak hijau dimangsa oleh hewan yang berbeda seperti ular, rakun, katak lain dan bahkan manusia. Mereka tidak menghasilkan sekresi kulit tidak menyenangkan dan bergantung pada kecepatan untuk menghindari predasi.
Mereka makan berbagai hewan termasuk jangkrik, lalat, cacing, dan katak kecil. Menggunakan mulut besar mereka, mereka bahkan dapat menelan burung dan ular garter. Spesies ini mirip dengan katak Pickerel (palustris Rana) dan Selatan Leopard Frog (Rana sphenocephala).

H.    Peranan Bagi Kehidupan
a.       Digunakan untuk kedokteran sebagai penguat denyut jantung
b.      Untuk tes kehamilan.
c.       Keperluan praktikum zoologi bagi siswa dan mahasiswa.
d.      Membantu membinasahkan nyamuk.
e.       Untuk dikonsumsi.
f.       Sebagai natural biological





















DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2011. Northern Leopard Frog. file:///E:/koncek/pipiens2.htm. (11 Oktober 2011)


Anonimous. Sistem Sirkulasi Amphibi. file:///E:/koncek/sistem-sirkulasi-amfibiamphibia.html. (12 Oktober 2011)

Arther Joehanezh, 2010. Amphibia. file:///E:/koncek/pipens.htm. (11 Oktober 2011)


Rorabaugh, James C. 2011. Rana pipiens Northern Leopard Frog. http://amphibiaweb.org/cgi/amphib_query?where-genus=Rana&where-species=pipiens. (12 Oktoberber 2011)

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar