Senin, 31 Oktober 2011

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI VERTEBRATA AMFIBI

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Vertebrata pertama di darat adalah anggota kelas Amphibia. Saat ini kelas tersebut diwakili oleh kurang lebih 4000 spesies katak, salamander, dan caecilia (makhluk tak bertungkai yang membuat lubang untuk sarang di hutan tropis dan danau air tawar. Terdapat tiga ordo Kelas Amphibia yang masih hidup saat ini, yaitu Urodela (berekor ± salamander), Anura (tidak berekor ± katak, termasuk bangkong), dan Apoda (tak berkaki ± caecilian). Hanya ada sekitar 400 spesies dari ordo Urodela. Beberapa diantaranya hanya hidup di air, tetapi yang lain hidup di darat sebagai hewan dewasa atau bahkan sepanjang masa kehidupan. Sebagian besar salamander yang hidup di darat berjalan dengan pembengkokan badan dari sisi ke sisi yang mirip dengan cara berjalan tetrapoda awal. (Anonimous: 2011)

Kata amphibia berasal dari bahasa yunani “amphi dan bious” yang masing-masing artinya adalah dua dan hidup. Maksudnya disini adalah kehidupan ganda, terutama diartikan hidup di darat dan air. Akan tetapi terjadi pengecualian pada beberapa spesies yang hidup dan menetap di air. Pada umumnya amphibia mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di darat. Amphibia memiliki manfaat yang cukup banyak bagi manusia. Meskipun tingkat ancaman pada amphibia terus meningkat, sampai saat ini belum satupun spesies amphibia Sumatera, bahkan Indonesia, yang masuk dalam daftar satwa terancam kepunahan dari IUCN. Hal ini terjadi karena minimnya data yang berkaitan dengan satu populasi dan daerah sebaran yang terdapat di Indonesia. Faktor ini mengindikasikan bahwa upaya konservasi amphibia yang mutlak dilakukan adalah usaha perlindungan dan pengelolaan habitat yang lebih baik dan efesian juga segera mengupayakan pencegahan spesies amphibia tertentu yang kondisinya rentan dari kepunahan. ( Muetya: 2011)

b. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui bentuk morfologi dari kelas amphibia, mengetahui karakter dan sifat-sifat untuk pengidentifikasian dan pengklasifikasian kelas amphibia dan untuk mengetahui jenis-jenis dari kelas amphibia.

c. Tinjauan Pustaka

Amphibia berasal dari kataAmphi yang artinya rangkap, dan bios yang artinya kehidupan. Dan amphibia adalah hewan yang hidup dengan dua bentuk kehidupan,mula-mula dalam air tawar kemudian dilanjutkan di darat. Fase kehidupan di dalam air berlangsung sebelum alat reproduksinya masak, keadaan ini merupakan fase larva atau biasa disebut berudu. Amphibi mempunyai ciri-ciri, tubuhnya diselubungi kulityang berlendir, merupakan hewan berdarah dingin atau poikiloterm, amphibi mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan, yaitu dua serambi dan satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang yangterdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang diair, pernafasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernafasannya berupa paru-paru. (Anonim: 2011)

Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina. (Anonimous :2011)

Pada pembuahan eksternal biasanya dibentuk ovum dalam jumlah besar, karena kemungkinan terjadinya fertilisasi lebih kecil dari pada pembuahan secara internal. Pada katak betina menghasilkan ovum yang banyak, kalau kita membedah katak betina yang sedang bertelur, kita akan menjumpai bentukan berwarna hitam yang hampir memenuhi rongga perutnya, itu merupakan ovarium yang penuh berisi sel telur, jumlahnya mencapai ribuan. Pada katak betina juga ditemukan semacam lekukan pada bagian leher, yang berfungsi sebagai tempat ”pegangan” bagi katak jantan ketika mengadakan fertilisasi. Hal ini diimbangi oleh katak jantan dengan adanya struktur khusus pada kaki depannya, yaitu berupan telapak yang lebih kasar. Fungsinya untuk memegang erat katak betina ketika terjadi fertilisasi. (Iqbalali: 2009)

Amphibia adalah hewan berdarah dingin yang mampu menyesuaikan cara hidupnya dengan lingkungan. Di daerah beriklim sedang, bila musim dingin tiba, hewan ini bersembunyi dimana saja, misalnya mengubur diri dalam lumpur parit, dikubanan atau di tanah yang basah di antara batu-batuan. Selama tidur pada waktu musim dingin, hewan ini tidak makan, dan sedikit pertukaran udara yang dibutuhkannya, yang berlangsung melalui kulitnya. (Anonimous : 2010).

Amphibia dikelompokan kedalam empat Ordo yaitu Gymnophiona (Caecilians), Trachystomata (Sirens), Caudata dan Anura (Frogs and Toads). Sementara ahli lain membagi amphibi kedalam tiga ordo meliputi Gymnophiona (Caecilians), Caudata (Salamanders) dan Anura (Frogs and Toads). (Muetya: 2011)

a. Ordo Caecilia ( Gymnophiona)

Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Dibagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik. (Anonimous : 2010)

Ordo Caecilia mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Uraeotyphilidae, Scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Famili yang ada di indonesia adalah Ichtyopiidae. Anggota famili ini mempunyai ciri-ciri tubuh yang bersisik, ekornya pendek, mata relatif berkembang. Reproduksi dengan oviparous. Larva berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang segera hilang walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum metamorphosis. Anggota famili ini yang ditemukan di indonesia adalah Ichtyophis sp., yaitu di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (Muetya : 2011)

b. Ordo Urodela

Urodela disebut juga caudata. Ordo ini mempunyai ciri bentuk tubuh memanjang, mempunyai anggota gerak dan ekor serta tidak memiliki tympanum. Tubuh dapat dibedakan antara kepala, leher dan badan. Beberapa spesies mempunyai insang dan yang lainnya bernafas dengan paru-paru. Pada bagaian kepala terdapat mata yang kecil dan pada beberapa jenis, mata mengalami reduksi. Fase larva hampir mirip dengan fase dewasa. Anggota ordo Urodela hidup di darat akan tetapi tidak dapat lepas dari air. Pola persebarannya meliputi wilayah Amerika Utara, Asia Tengah, Jepang dan Eropa. Urodella mempunyai 3 sub ordo yaitu Sirenidea, Cryptobranchoidea dan Salamandroidea. Sub ordo Sirenidae hanya memiliki 1 famili yaitu Sirenidae, sedangkan sub ordo Cryptobranchoidea memiliki 2 famili yaitu Cryptobranchidae dan Hynobiidae. Sub ordo Salamandroidea memiliki 7 famili yaitu Amphiumidae, Plethodontidae, Rhyacotritoniade, Proteidae, Ambystomatidae, Dicamptodontidae dan Salamandridae (Anonimous : 2010).

c. Ordo Anura

Anura merupakan ordo yang memiliki jumlah spesies terbesar dibandingkan Ordo lainnya. Anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat selaput diantara jari-jarinya. Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang tenang dan dangkal. (Muetya : 2011)

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

a. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu, 8 dan 15 oktober 2011 di Laboratorium MIPA STAIN Batusangkar.

b. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah bak bedah, alat tulis dan caliper atau penggaris, kertas HVS, sedangkan bahan yang digunakan adalah Bufo melanostictus, Polypedates leucomystax, Fejervarya limnocharis, Fejervarya cancrivora, Rana erithraea, Rana calconata.

c. Cara Kerja

Katak yang akan diamati terlebih dahulu diletakkan di dalam bak bedah dan dihadapkan ke arah kiri. Kemudian diamati ciri morfologi dan parameter, diantaranya panjang badan (PB), lebar kepala (LK), panjang kepala (PK), panjang kaki depan (PKD), panjang tibia-fibula (PTF), panjang femur (PF), panjang kaki belakang (PKB), panjang moncong (PM), diameter tymphanium (DT), diameter mata (DM), jarak inter nares (JIN), urutan panjang jari kaki depan (UPJKD), urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB), ada tidaknya gigi former, bentuk kelenjar parotoid, tutupan selaput renang, ada tidaknya kelenjar pada ekstrimitas dan bentuk ujung jari. Kemudian juga dicatat deskripsi tubuhnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Bufo melanostictus

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibi

Ordo : Anura

Famili : Bufonidae

Genus : Bufo

Spesies : Bufo melanostictus Scheineider, 1979 (Inger,1997)

Dari praktikum yang telah dilakukan, di dapatkan hasil sebagai berikut: Bufo melanosticus memiliki panjang badan (PB) 66 mm, lebar kepala (LK) 23 mm, panjang kepala (PK) 17 mm, panjang kaki depan (PKD) 29 mm, panjang tibia-fibula (PTF) 24 mm, panjang femur (PF) 26 mm, panjang kaki belakang (PKB) 33 mm, panjang moncong (PM) 8 mm, diameter tymphanium (DT) 10 mm, diameter mata (DM) 5 mm, jarak inter orbital (JIO) 5 mm, jarak inter nares (JIN) 4,43 mm, urutan panjang jari kaki depan (UPJKD) 3>1>2>4, urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB) 4>3>5>2>1, prosessus odontoid, gigi former dan kelenjar pada ekstrimitas tidak ada, bentuk kelenjar parotoid memanjang, tutupan selaput renang kaki depan sampai 1 phalanges dan bentuk ujung jari ada tonjolan antar ruas.Warna kepala hijau kecoklatan, memiliki garis supra orbital dan memiliki bintil-bintil yang ujungnya hitam.

  1. Fejervarya limnocharis ( Bioe, 1835)

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Ranidae

Genus : Fejervarya

Species : Fejervarya limnocharis

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Fejervarya limnocharis memiliki panjang badan (PB) 40 mm, lebar kepala (LK) 15 mm, panjang kepala (PK) 10 mm, panjang kaki depan (PKD) 15 mm, panjang tibia fibula (PTF) 20 mm, panjang femur (PF) 15 mm, panjang kaki belakang (PKB) 25 mm, panjang moncong (PM) 10 mm, diameter tympanum (DT) 5 mm, diameter mata (DM) 4 mm, jarak inter orbital (JIO) 7 mm, jarak inter nares (JIN) 3 mm. Urutan panjang kaki depan 3>1>2=4, urutan panjang kaki belakang 4>5=3>2>1 , bentuk ujung jari terdapat tonjolan, warna kepala coklat keemasan, tutupan selaput renang ada, gigi former ada, kelenjar parotoidnya tidak ada dan alur supraorbitalnya tiak ada.

  1. Fejervarya cancrivora

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Ranidae

Genus : Fejervarya

Species : Fejervarya cancrivora

Dari pengukuran yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Fejervarya cancrivora memiliki panjang badan (PB) 60 mm, lebar kepala (LK) 30 mm, panjang kepala (PK) 20 mm, panjang kaki depan (PKD) 23 mm, panjang tibia fibula (PTF) 26 mm, panjang femur (PF) 21 mm, panjang kaki belakang (PKB) 45 mm, panjang moncong (PM) 10 mm, diameter tympanum (DT) 4 mm, diameter mata (DM) 5 mm, jarak inter orbital (JIO) 10 mm, jarak inter nares (JIN) 10 mm. Urutan panjang kaki depan 2>4>1>3, urutan panjang kaki belakang 4>3>5>2>1 , bentuk ujung jari depan berbentuk gada, warna kepala coklat kehitaman, tutupan selaput renang penuh, kelenjar parotoid tidak ada, gigi former ada, dan alur supraorbitalnya tidak ada.

  1. Rana erithraea

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Ranidae

Genus : Rana

Species : Rana erithraea

Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut: Rana erithraea memiliki panjang badan (PB) 65 mm, lebar kepala (LK) 17 mm, panjang kepala (PK) 18 mm, panjang kaki depan (PKD) 21 mm, panjang tibia-fibula (PTF) 18 mm, panjang femur (PF) 13 mm, panjang kaki belakang (PKB) 34 mm, panjang moncong (PM) 12 mm, diameter tymphanium (DT) 5 mm, diameter mata (DM) 6 mm, jarak inter orbital (JIO) 8 mm, jarak inter nares (JIN) 4 mm, urutan panjang jari kaki depan (UPJKD) 3>4>1>2, urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB) 4>5>3>2>1, prosessus odontoid pada mandibula tidak ada, gigi former ada, kelenjar pada ekstrimitas tidak ada, bentuk kelenjar parotoid tidak ada, tutupan selaput renang ada.

  1. Rana calconata

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Ranidae

Genus : Rana

Species : Rana calconata

Dari praktikum yang telah dilakukan, di dapatkan hasil sebagai berikut: Rana calconata memiliki panjang badan (PB) 30 mm, lebar kepala (LK) 6 mm, panjang kepala (PK) 5 mm, panjang kaki depan (PKD) 15 mm, panjang tibia-fibula (PTF) 14 mm, panjang femur (PF) 14 mm, panjang kaki belakang (PKB) 45 mm, panjang moncong (PM) 5 mm, diameter tymphanium (DT) 4 mm, diameter mata (DM) 3 mm, jarak inter orbital (JIO) 8 mm, jarak inter nares (JIN) 3 mm, urutan panjang jari kaki depan (UPJKD) 3>4>2>1, urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB) 4>5>3>2>1, prosessus odontoid pada mandibula tidak ada, gigi former ada, kelenjar pada ekstrimitas tidak ada, kelenjar parotoid tidak ada, tutupan selaput renang ada dan bentuk ujung jari bentuk gada.

  1. Polypedates leucomystax

Klasifikasi :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Ordo : Anura

Famili : Rachoporidae

Genus : Polypedates

Species : Polypedates luecomystax

Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut: Polypedates luecomystax memiliki panjang badan (PB) 70 mm, lebar kepala (LK) 20 mm, panjang kepala (PK) 25 mm, panjang kaki depan (PKD) 45 mm, panjang tibia-fibula (PTF) 35 mm, panjang femur (PF) 30 mm, panjang kaki belakang (PKB) 40 mm, panjang moncong (PM) 20 mm, diameter tymphanium (DT) 5 mm, diameter mata (DM) 7 mm, jarak inter orbital (JIO) 8 mm, jarak inter nares (JIN) 3 mm, urutan panjang jari kaki depan (UPJKD) 3>4>2>1, urutan panjang jari kaki belakang (UPJKB) 4>5>3>2>1, prosessus odontoid, gigi former ada, kelenjar pada ekstrimitas, bentuk kelenjar parotoid bulat, tutupan selaput renang ada, bentuk ujung jari bentuk gada.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan

Dari pratikum Amphibia yang kami dilaksanakan pada tanggal 8 dan 15 Oktober maka dapat disimpulkan bahwa amphibia memiliki 3 ordo yaitu ordo Caecilia, Urodela dan ordo Anura. Adapun yang kami pratikumkan disini hanya dari ordo Anura saja yaitu spesies Bufo melanostictus, Polypedates leucomystax, Fejervarya limnocharis, Fejervarya cancrivora, Rana erithraea, Rana calconata.

Dari semua ordo anura tersebut memiliki beberapa spesies yang memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda antara spesies yang satu dengan yang lainnya, sehingga dengan ciri khas yang dimiliki oleh spesies tersebut maka kita dapat membedakannya dengan mudah.

b. Saran

Dalam pelaksanan praktikum selanjutnya praktikan hendaknya melakukan pengamatan dan pengukuran dengan teliti sehingga data yang didapatkan akurat dan sesuai dengan teori yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2010. Amphibi. http://www.gudangmateri.com. [19 oktober 2011]

Anonimous. 2010. Laporan Praktikum Amphibi. http://mokoagow.blogspot.com. [19 oktober 2010]

Anonimous. 2011. Amphibi. http://www.scribd.com. [19 oktober 2011]

Anonimous. 2011. Kodok dan Katak. http://id.wikipedia.org. [19 oktober 2011]

Iqbalali. 2009. Sistem Reproduksi Amphibi. http://iqbalali.com. [19 oktober 2011]

Muetya, dezi. 2011. Praktikum Amphibi. http://dezimeutya.blogspot.com. [19 Oktober 2011]

3 komentar:

  1. pengin banget praktikum. tp di kampusku gak punya lab

    BalasHapus
  2. Ass,, slm kenal k',, kapan2 singgahlah ke blognya awak???

    BalasHapus